7 Reseller Arisan Online Salatiga Maryuni Kemplink Melapor ke Mapolda Jateng

ABOUTSEMARANG – Sebanyak 7 reseller arisan online Salatiga Maryuni Kemplink mendatangi Polda Jateng, Senin (6/9).

Para reseller mengadu ke Polisi karena menjadi korban dan merasa dikambinghitamkan dalam kasus arisan online Salatiga ini.

“Reseller ini artinya perantara, atau koordinator yang kemudian hanya untuk kepentingan dari pelaku untuk melakukan transaksi. Ini ada tujuh reseller, sekaligus korban,” kata Mohammad Sofyan, Kuasa hukum para reseller dikutip dari detikcom.

Ditambahkan Sofyan, kedatangan mereka juga untuk mengadukan R dan B yang merupakan bandar arisan online Salatiga Maryuni Kemplink karena diduga telah membawa kabur uang nasabah.

“Laporan ini, keduanya diduga telah melakukan tindak pidana pasal 372, 378 jo Pasal 64 KUHP dan UU No 8 tahun 2010 tentang tindak pidana pencucian uang,” sambung Sofyan.

Sofyan menyebut kerugian arisan online itu diduga mencapai ratusan miliar. Menurutnya dari 7 kliennya itu sudah membawahi 221 member dengan estimasi kerugian sekitar Rp 3 miliar.

BACA JUGA: Ini Alasan Bandar Arisan Online Salatiga Maryuni Kemplink Belum Ditangkap

“Dari 7 reseller ini saja membawahi kurang lebih 221 member. Sehingga total kerugian jika diakumulasikan mencapai Rp 3 Miliar yang terdiri dari uang member dan pribadi reseller,” terang dia.

Sofyan menerangkan modus arisan online itu menawarkan lelang arisan senilai Rp 5 juta dengan membayar Rp 3,5 juta. Dalam dua minggu, korban diimingi keuntungan senilai Rp 1,5 juta.

“Kalau kemudian jangka waktu lebih panjang, 3 minggu, maka keuntungan bukan Rp 1,5 juta tapi Rp 2 juta. Semakin tinggi gate pokok yang ditawarkan maka semakin tinggi pula tawaran keuntungan,” jelas Sofyan.

BACA JUGA :   Polda Jateng Sekat 70 Titik Perbatasan Kota Kabupaten Setiap Akhir Pekan, Sampai Kapan?

“Dalam setiap iklannya yang kami ketahui, maksimal gate Rp 50 juta dengan jangka waktu paling pendek 5 hari, paling panjang 3 minggu,” imbuhnya.

Dia menyebut ketujuh kliennya juga menyetorkan uang sebagai reseller yang otomatis menjadi member. Selain itu, kliennya juga dirugikan karena merasa dikambinghitamkan dari pasangan R dan B.

Sementara kedua pasangan terlapor itu justru pamer barang mewah dan uang lewat medsos.

“Kami menganggap perlu melaporkan ini karena klien kami sebagai korban mengalami situasi yang jauh lebih buruk daripada yang dialami pelaku utama. Karena para klien kami menjadi tumpuan frustasi para member lain karena frustasi pelaku utama belum diproses lebih lanjut sehingga mengkambinghitamkan dan menyasar klien kami sebagai reseller,” tutur Sofyan.***

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan