Berkarya Lewat Seni di Lapas, Napi Teroris Ini Dapat Pujian dari Staf Khusus Menkumham

ABOUTSEMARANG – Suranto Abdul Ghoni yang merupakan terpidana dalam kasus Bom Bali I telah menghabiskan sisa hidupnya di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Semarang pasca ditangkap Densus 88 dan divonis seumur hidup oleh Mahkamah Agung sembilan belas tahun silam.

Adapun Abdul Ghoni sebelumnya ditahan di Lapas Krobokan Bali sejak tahun 2003. Kemudian dipindah ke Lapas Semarang pada tahun 2008.

Meski sudah lama ditahan di Lapas Semarang, Abdul Ghoni tidak bisa mendapatkan hak remisi atau potongan hukuman maupun pembebasan bersyarat. Sebab, dirinya telah divonis seumur hidup.

Oleh sebab itu, Abdul Ghoni sendiri lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan membuat berbagai karya seni kaligrafi timbul dengan media kuningan.

Diketahui, Abdul Ghoni juga kini lebih banyak menerapkan ilmu agamanya ke dalam bentuk karya seni, alih-alih melakukan jihad dengan kekerasan seperti dahulu.

Tidak main-main, dia sangat serius belajar berkarya dan mencari bentuk-bentuk kaligrafi terbaru. Dia sangat paham ayat mana saja dalam Alquran yang jika dijadikan kaligrafi akan menjadi karya yang indah.

Diketahui, hasil karya Abdu Ghoni telah mencuri perhatian Staf Khusus Menteri Hukum dan HAM Bidang Transformasi Digital, Fajar B.S Lase saat berkunjung ke Lapas Semarang, Selasa, 21 Juni 2022.

Fajar B.S Lase datang berkunjung meninjau pembuatan kaligrafi dan memberikan apresiasi atas pembuatan kaligrafi tersebut.

“Sangat bagus dan luar biasa narapidana di Lapas Semarang diberikan kegiatan yang positif, khususnya napi teroris,” kata Fajar B.S Lase.

Terkait vonisnya, diketahui setiap tahunnya, Abdul Ghoni sudah mengusulkan permohonan perubahan pidana seumur hidup menjadi pidana sementara kepada Presiden RI namun belum juga mendapatkan persetujuan.

BACA JUGA :   Kembali Dibuka, Tangis Haru Warnai Kunjungan Tatap Muka Napi di Lapas Semarang

“Harapannya Bapak Jokowi segera mengabulkan perubahan pidana ini karena sudah lebih dari 10 kali saya berikhtiar untuk mengajukan permohonan kepada Bapak Presiden,” ujar Abdul Ghoni.

Sementara, Kalapas Semarang Tri Saptono Sambudji juga ikut membanggakan karya anak didiknya tersebut. Apalagi, karya tersebut merupakan salah satu wujud implementasi program deradikalisasi napi terorisme di lapas.

“Abdul Ghoni sangat kooperatif dengan petugas serta aktif dalam kegiatan pembinaan kepribadian maupun kemandirian, termasuk keterampilan membuat kaligrafi tersebut,” jelas Tri Saptono.

“Selain itu, Abdul Ghoni juga pandai mengolah makanan yaitu berupa pia-pia (bakwan) yang diproduksi untuk dijual di koperasi Lapas,” lanjut Kalapas.

Dengan perubahan besar yang dilakukan oleh Abdul Ghoni selama di penjara, hal tersebut menjadi wujud keberhasilan Lapas dalam upaya membina narapidana khususnya pembinaan narapidana teroris.***

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan