Dianggap Semena-mena, Relawan Hingga Karyawan Minta Pimpinan PMI Kota Semarang Mundur

ABOUTSEMARANG – Relawan Donor Darah dan Karyawan meminta Pimpinan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Semarang untuk mengundurkan diri. Hal ini dilakukan karena pimpinan PMI Kota Semarang dianggap semena-mena.

Diketahui para karyawan PMI Kota Semarang membuat petisi ke Komite Kode Etik PMI Kota Semarang, pada 8 November 2022.

Dalam petisi tersebut terdapat 12 tuntutan agar pimpinan PMI Kota Semarang meminta maaf kepada relawan dan mengundurkan diri.

Ada 12 hal yang dilakukan pimpinan yang membuat mereka protes yakni:

  1. Bersikap arogan, otoriter, melakukan demosi tanpa teguran.
  2. Mengambil alih fungsi ketua bidang.
  3. Menunda pengangkatan pegawai, memiliki sekretaris di luar organisasi PMI tapi digaji dari dana PMI.
  4. Mempekerjakan pegawai dan sopir untuk kepentingan pribadi, rapat tidak kenal waktu, weekend masih ada pelatihan.
  5. Mengurangi fasilitas bagi pendonor, bikin rencana beli gedung dan bikin RS.
  6. Sangat likes & dislikes.
  7. Menerbitkan SK padahal belum disetujui semua pengurus.
  8. Melecehkan secara verbal-seksis, merendahkan martabat perempuan.
  9. Bikin acara pengobatan gratis dengan alasan pribadi pakai nama dan dana PMI, penggunaan tukang dari rekanan renovasi klinik untuk renovasi rumah pribadi.
  10. Bikin kesenjangan fasilitas pegawai & pengurus, pelatihan di luar jam kerja tidak dapat uang lembur.
  11. Penghilangan fasilitas pendonor seperti kalender, kaos.
  12. Berencana mengurangi fasilitas pemeriksaan di klinik markas.

Yoga, salah satu sukarelawan yang turut menandatangani petisi tersebut mengaku kecewa dengan kebijakan baru di bawah kepemimpinan Ketua PMI Kota Semarang saat ini.

“Sekarang souvenir seperti mug, kaos, kalender itu dihilangkan. Fasilitas kesehatan juga dihilangkan, padahal dulu ada fasilitas kesehatan khusus untuk pendonor. Mulai ada masalah sejak kepimpinan yang baru, kalau yang dulu tidak ada masalah,” ujar Yoga saat dikonfirmasi.

BACA JUGA :   PMI Kota Sukabumi Kembali Gencarkan Penyemprotan Disinfektan Akibat Meningkatnya Kasus Covid-19 di Jawa Barat

Ia juga mempertanyakan, mengapa PMI justru mengundang artis ibukota Yuni Shara dengan budget yang fantastis. Sementara fasilitas bagi pendonor yang biasanya sudah diperhitungkan malah dikurangi.

“Malah buat acara besar ngundang artis denger-denger habis ratusan juta. Untuk ngundang Yuni Shara aja bisa, jadi perbandingannya dengan itu Yuni Shara,” katanya.

Tak hanya itu, relawan juga mendapat sikap yang tak enak saat mempertanyakan keresahan mereka kepada pimpinan.

“Ketika para relawan bertanya kenapa sudah tidak ada lagi fasilitas yang ada. Kemudian dijawab dengan kalimat yang tidak pas, seperti meremehkan relawan. Malah dijawab ‘Anda sudah urun (nyumbang) berapa ke PMI, saya sudah nyumbang Rp 10 juta, berapa sih harga kalender, saya ikut urun Rp 10 juta, kalian urun berapa,” kata Yoga menirukan jawaban pimpinan PMI Kota Semarang.

“Kaos itu tuh harga berapa sih, tapi bagi relawan ini bentuk penghargaan. Ketika saya di jalan ada orang pakai kaos yang sama, saya merasa punya keluarga. Kaos yang harganya tidak sampai ratusan juta itu juga bisa menarik orang untuk donasi darah. Kok malah dihilangkan,” imbuh Yoga.

Ia berharap segera ada titik terang dari masalah ini. Yoga khawatir arogansi pimpinan PMI itu justru merusak hubungan yang sudah lama terjalin.

“Kami minta beliau (Ketua PMI Kota Semarang) minta maaf, dan mengundurkan diri. Fasilitas-fasilitas itu juga dikembalikan lagi,” kata Yoga.

Terpisah, Anggota Komite Etik PMI Kota Semarang, Wiwit Rejanto, mengatakan pihaknya telah menerima petisi tersebut dan akan menggelar rapat pleno untuk membahasnya.

“Iya (laporan sudah diterima), Komite Etik juga dapat tembusan dari relawan, karena tembusannya banyak, dari ranting dari pusat, provinsi, wali kota. Tanggal 27 Desember 2022 besok akan ada rapat pleno membahas ini,” ujar Wiwit, Senin (26/12).

BACA JUGA :   PMI Kota Semarang Akui Stok Plasma Konvalesen Semua Golongan Darah Kosong

Relawan dan pimpinan PMI Semarang akan dipanggil ke pleno tersebut untuk dimintai klarifikasi. (***)

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan