DPRD Jateng Pertanyakan Pembelian 6 Isotank Saat Angka Covid-19 Turun

ABOUTSEMARANG – DPRD Jateng mempertanyakan kebijakan Pemprov membeli 6 truk pengangkut oksigen (isotank) Rp 7,65 miliar pada pertengahan Agustus lalu.

Awalnya pengadaan isotank diharapkan membantu mengatasi kelangkaan oksigen, terutama dalam proses distribusi ke rumah sakit. Namun saat ini angka Covid-19 sudah turun sehingga isotank yang telah dibeli tak akan banyak terpakai.

Ketua Panitia Khusus (Pansus) Penanggulangan Covid-19 DPRD Jateng Abang Baginda Muhammad Mahfuz Hasibuan pun mengatakan, pembelian isotank tersebut menunjukkan mitigasi Pemprov Jateng lemah.

“Ada satu keputusan membeli isotank dari Singapura, beli enam menggunakan dan corporate social responsibility (CSR). Yang empat sudah sampai sini, yang dua belum datang. Masalahnya, ketika isotank ada, sudah tidak terjadi kelangkaan oksigen di rumah sakit karena Covid-19 mereda. Lalu isotank ini mau diapakan?” ujarnya dalam dialog Prime Topic ‘Sinergi Menyelamatkan Rakyat dari Pandemi’ di lantai IV DPRD Jateng dikutip dari Suara Merdeka, baru-baru ini.

Enam isotank dengan kapasitas masing-masing 20 ton tersebut rencananya akan didistribusikan ke sejumlah rumah sakit dan puskesmas di Jateng.

Isotank tersebut diharapkan bisa membantu mengatasi kelangkaan oksigen, khususnya proses distribusi oksigen ke rumah sakit untuk menyelamatkan masyarakat terpapar Covid-19.

Anggota Komisi C DPRD Jateng tersebut berpendapat, pembelian isotank tidak akan banyak berguna saat ini. Sebab isotank hanya sarana pendistribusian oksigen.

”Bayangkan jika dananya untuk membeli oksigen dan dibagikan ke masyarakat, tentu akan lebih bermanfaat. Sebab urusan oksigen ini urusan nyawa,” tandasnya.

Politikus PDI Perjuangan tersebut menambahkan, isotank saat ini tidak akan banyak bermanfaat, apalagi pengadaannya melalui CSR.

BACA JUGA:Cukupi Ketersediaan Oksigen, Bank Jateng Serahkan Isotank Rp 7,6 Miliar

”Sekarang isotank mau diapain, mau dibuat bisnis? Pemprov tidak punya pengalaman untuk bisnis oksigen, tidak punya unit usaha yang sudah menjalankan bisnis itu. Ini harus dievaluasi, diaudit, dasarnya apa membeli isotank?” ujarnya.

Baginda menilai, langkah Pemprov Jateng menangani kelangkaan oksigen saat puncak gelombang kedua Covid-19 lalu cukup kacau. Pasalnya kelangkaan oksigen di masyarakat banyak terjadi. Banyak warga yang kesulitan mendapatkan oksigen.

Di sisi lain, ketika kabupaten/kota mengalami kesulitan menangani membeludaknya pasien Covid-19 beberapa waktu lalu, Pemprov Jateng tidak bisa memberikan supervisi secara maksimal.

”Beberapa rumah sakit di daerah minta bantuan Pemprov. Ada yang minta bantuan ICU, disetujui provinsi, tapisampai hari ini, sampai Covid-19 reda bantuan tidak turun,” tandasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Jateng, Yulianto Prabowo yang juga menjadi narasumber acara itu mengatakan, pihaknya sudah memberikan sejumlah bantuan dan fasilitas ke RS, mulai dari APD,rapid test antigen, PCR, alat ICU, hingga laboratorium PCR di RS.

Di Jateng ada 13 RS lini 1, 63 RS lini 2, dan lebih banyak lagi RS lini 3. Jika dijumlah ada 265 RS rujukan Covid-19.

Menurutnya, secara aturan RS lini 1 merupakan tanggung jawab Kementerian Kesehatan. Namun fakta di lapangan,hampir semua RS meminta bantuan ke Pemprov.

”Seluruh rumah sakit di Jateng minta apa-apa ke provinsi, mulai dari APD, rapid test antigen, PCR, alat ICU. Termasuk lab PCR di rumah sakit sebagian besar yang membelikan kita,” katanya.***

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan