Harga Rokok Akan Semakin Mahal di Tahun 2023, Pemerintah Naikan Cukai Rokok 10%

ABOUTSEMARANG – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengumumkan akan menaikan Cukai Hasil Tembakau (CHT) untuk rokok sebesar 10% pada 2023 dan 2024.

Keputusan ini diumumkan langsung Sri Mulyani di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat.

Sri Mulyani memaparkan alasan terkait keputusan ini. Salah satunya untuk mengendalikan konsumsi dan produksi rokok.

“Di sisi lain kita selama ini sudah menaikkan cukai rokok di dalam rangka mengendalikan konsumsi dan produksi rokok,” ujar Sri Mulyani, dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (3/11).

Menurut Sri Mulyani, kenaikan cukai rokok menyebabkan harga rokok naik. Hasilnya keterjangkauan masyarakat terhadap rokok juga menurun.

Langkah ini diharapkan bisa menurunkan jumlah konsumsi rokok.

“Tahun-tahun sebelumnya kita naikkan cukai rokok, menyebabkan harga rokok meningkat. Sehingga keterjangkauan terhadap rokok juga akan semakin menurun. Dan dengan demikian diharapkan konsumsinya akan menurun,” jelasnya.

Saat ini pemerintah juga menggunakan cukai untuk mengendalikan produksi rokok. Pemerintah juga terus mengedukasi masyarakat tentang bahaya merokok.

Alasan lain yang diungkap Sri Mulyani adalah terkait pencegahan konsumsi rokok bagi anak di bawah umur usia 10-18 tahun.

Sebagaimana dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), remaja konsumen rokok harus turun 8,7% pada 2024.

“Untuk itu dengan pertimbangan untuk menurunkan prevalensi anak-anak yang merokok menuju target RPJMN yaitu 8,7%. Dan yang kedua mengingat konsumsi rokok merupakan konsumsi kedua terbesar dari rumah tangga miskin mencapai 12,21%, untuk masyarakat miskin perkotaan, dan 11,63% untuk masyarakat pedesaan,” ujarnya.

BACA JUGA :   Isu Peningkatan Tarif Cukai Rokok Bikin Pelaku Industri Resah, Begini Penjelasannya

Dia menambahkan, Presiden Joko Widodo meminta kenaikan cukai tak hanya dikenakan untuk rokok, namun juga cukai untuk rokok elektronik dan hasil pengolahan tembakau lainnya (HTPL).

“Hari ini juga diputuskan untuk meningkatkan cukai dari rokok elektronik yaitu rata-rata 15% rokok elektrik dan 6 persen untuk HTPL. Ini berlaku, setiap tahun naik 15%, selama 5 tahun ke depan,” kata Sri Mulyani.

Sri Mulyani juga mengatakan, konsumsi rokok oleh masyarakat miskin cenderung tinggi. Konsumsi rokok berada di posisi kedua tertinggi setelah beras.

Ia menyebut lebih banyak masyarakat miskin memilih membeli rokok dibanding membeli sumber protein seperti telur, ayam, tahu atau pun tempe.

“Ini (rokok) kedua tertinggi sesudah beras, melebihi konsumsi protein seperti telur dan ayam, serta tahu dan tempe,” katanya.

Padahal sumber protein merupakan makanan yang dibutuhkan masyarakat. Di sisi lain, rokok justru meningkatkan risiko stunting dan kematian.

“Di sisi lain juga diketahui rokok telah menjadi salah satu risiko untuk meningkatkan stunting dan kematian,” ujarnya.

(ard)

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan