Keterbukaan dan Toleransi Mulai Terlihat, Perayaan Natal di Arab Saudi Kian Terbuka

ABOUTSEMARANG – Perayaan Hari Natal di Arab Saudi kini tak lagi tertutup. Hal ini bertolak belakang dengan tahun-tahun sebelumnya, saat perayaan Natal dilakukan diam-diam.

Meningkatnya jumlah turis asing dan ekspatriat non muslim di Arab Saudi, meningkatkan toleransi di negara tersebut. Sehingga warga asing yang tinggal di Arab Saudi bebas merayakan Natal tahun ini.

Sydney Turnbull, salah satu warga asing asal Amerika Serikat (AS) mengatakan selalu merayakan Natal secara tertutup sejak ia menginjakkan kaki di Saudi.

“Anda dengar cerita-cerita orang menyelundupkan pohon Natal dan merayakan secara pribadi, tapi Anda tak pernah melihat dekorasi atau festival lampu penuh warna di luar seperti di Amerika,” katanya seperti dikutip Arab News, Sabtu (25/12).

Baca Juga : Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas Ucapkan Selamat Natal Kepada Umat Kristiani, Mari Terus Bergerak untuk Memperkuat Persaudaraan

Situasi pun mulai berubah. Ornamen dan aksesoris Natal mulai bermunculan di jendela toko dan produk hadian berjajar di rak.

“Tahun ini khususnya mungkin merupakan tampilan Natal yang paling umum,” ucap Turnbull.

Ia menceritakan pengelola kafe mengubah dekorasi seperti negeri di musim dingin. Lalu ada hiasan manusia salju berhiaskan berlian.

“Starbucks menawarkan minuman cangkir bertema liburan sama dengan yang dimiliki teman dan keluarga saya di rumah,” cerita Turnbull.

Enrico Catania, seorang warga Jeddah Italia berusia 35 tahun, mengatakan kepada Arab News bahwa perayaan tahun ini akan sedikit berbeda karena pandemi COVID-19. Akibatnya terjadi pembatasan perjalanan. Catania akan menghabiskan Natal dengan teman-teman seperti biasa, tetapi tidak akan bertemu keluarga.

Banyak ekspatriat yang secara terbuka merayakan liburan di Arab Saudi. “Rekan-rekan saya di Saudi bahkan memberi saya hadiah Natal, sikap yang sangat baik dan bijaksana, hanya contoh lain betapa hangat dan ramahnya orang-orang di sini,” ujar Thurnbull.

Ashwag Bamhafooz, ibu rumah tangga Saudi asal Jeddah, mengaku diundang untuk merayakan Natal bersama teman-teman suaminya dari Filipina. “Keluarga ibu saya, meskipun mereka Sunni Lebanon, merayakan Natal dan saling memberi hadiah,” kata Bamahfooz.

“Saya merasa tidak apa-apa merayakan Natal dan Tahun Baru seperti kita merayakan tahun Hijriah,” katanya. Dia menambahkan senang dengan langkah Kerajaan menuju toleransi yang lebih besar terhadap agama lain.

Namun pendapat berbeda diungkapkan Muneerah Al-Nujaiman, seorang guru bahasa Inggris di Universitas Putri Nourah. Dia mengatakan kepada Arab News bahwa banyak warga Arab Saudi tampaknya telah salah memahami gagasan toleransi. “Saya sangat percaya pada toleransi budaya, yang berarti mengizinkan orang Kristen merayakan keyakinan agama mereka sendiri di Arab Saudi. Namun, saya sendiri tidak merayakannya karena tidak mencerminkan identitas agama atau budaya saya,” kata Al-Nujaiman.

“Penerimaan agama berarti kita tidak melawan mereka atau mencegah mereka merayakan hari raya mereka, karena ketika saya di negara mereka, mereka biasa memberi kami kebebasan untuk berdoa dan beribadah, tetapi penerimaan tidak berarti perayaan,” ujarnya. ***

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan