Mengenal Nasi Glewo, Kuliner Tradisional Khas Semarang yang Kian Langka

ABOUTSEMARANG – Kota Semarang menjadi salah satu kota yang menyimpan banyak sejarah. Bahkan hingga hari ini berbagai peninggalan sejarah zaman dahulu pun masih ada yang bertahan. Baik bangunan hingga kuliner tradisional.

Beberapa bangunan pun saat ini masih banyak yang bisa dinikmati kemegahan dan keindahan bangunannya. Namun berbeda dengan bangunan, kuliner tradisional khas Semarang makin hari makin sulit ditemukan. Salah satu kuliner tersebut yaitu nasi glewo.

Dalam buku Makanan Tradisional Indonesia yang ditulis Murdijati Gardjito dkk, nasi glewo sebenarnya lebih tepat disebut dengan bubur. Kuliner ini termasuk bubur gurih karena pembuatannya menggunakan santan.

Selain rasanya gurih, bubur glewo tergolong unik dan berbeda dengan bubur pada umumnya yang biasanya menggunakan pelengkap daging ayam. Adapun bubur glewo menggunakan pelengkap daging sapi, biasanya menggunakan daging ekor.

Daging sapi itu diolah menjadi masakan sambal goreng yang dituang di atas bubur hangat. Aroma petai dan bawang goreng menjadikan sajian itu terasa nikmat.

Saat ini sudah sangat sulit untuk menemukan warung yang menjual nasi atau bubur glewo. Padahal, kuliner ini cukup populer sekitar tahun 1970-an.

Adapun orang yang berjualan nasi glewo sempat ada di 2017 silam. Namun penjualnya bukan warung permanen, melainkan sebuah stand dalam Festival Kuliner Nusantara ‘Lezaatnesia’ yang digelar di Semarang.

Dari puluhan stand yang mengikuti festival itu, hanya ada satu orang yang menjual kuliner langka tersebut.

Penampakan nasi glewo yang dijual hampir serupa dengan bubur pada umumnya. Kuahnya seperti sayur terik namun dengan aroma kencur. Terik merupakan bumbu kuning untuk mengungkep tahu dan tempe dengan rasa agak manis.

BACA JUGA :   Waspada Banjir Rob Susulan di Beberapa Wilayah Pesisir Utara Jawa Tengah

Rika Narulita, pembuat Nasi Glewo menjelaskan selain bahan utama koyor dan daging sapi, kuah santan dan penyajian dilengkapi emping melinjo menjadi rahasia nikmatnya Nasi Glewo.

“Ini bedanya dari Nasi Ayam selain dagingnya yaitu pada bumbu rempahnya, ada kencurnya,” kata Rika pada saat itu.

Kuliner langka itu dijual Rika dengan harga hanya Rp 20 ribu sudah dengan satu botol air mineral. Para pembeli kebanyakan warga yang sudah berkeluarga dan bernostalgia karena Nasi Glewo sudah sulit ditemukan tahun 1990-an.

Rika sudah cukup akrab dengan Nasi Glewo meski nyaris punah karena ibunya pernah berjualan Nasi Glewo. Namun sayang, usaha itu tidak diteruskan.***

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan