Meningkat 15%, Kemenlu RI Sebut Jateng Jadi Daerah Rawan TPPO

ABOUTSEMARANG – Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyebutkan, kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) terhadap pekerja migran Indonesia (PMI), pada periode tahun 2022-2023, mengalami peningkatan sebesar 15 persen.

“Ada peningkatan kasus TPPO dari 2022 ke 2023 ini. Walaupun tidak signifikan, jumlahnya naik sekitar 15 persen,” kata Diplomat Ahli Madya Direktorat Perlindungan Warga Indonesia Kementerian Luar Negeri, Susapto Anggoro Broto, Jumat (14/7), seperti dirilis tribratanews.polri.go.id.

Menurutnya, pada 2022 lalu kasus TPPO yang ditangani oleh pihaknya telah mencapai 900 kasus dengan rincian 637 kasus berasal dari kawasan Asia Tenggara, 245 kasus di kawasan Timur Tengah dan 107 kasus di kawasan benua Afrika.

“Sementara khusus penanganan TPPO yang terkait judi online sepanjang 2022 sebanyak 2.438. Mereka tersebar di Vietnam, Thailand, Filipina dan Myanmar,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan daerah paling rawan TPPO di dalam negeri, ada tiga wilayah di antaranya yang pertama adalah Sulawesi Utara, Sumatera Utara dan terakhir Jawa Tengah.

“Untuk itu kami dari Kementerian Luar Negeri melakukan tindakan pertama untuk kasus yang ada di luar negeri. Salah satunya menangani kepulangannya ke tanah air,” kata dia.

Ia menambahkan, untuk menekan kasus TPPO tersebut haruslah adanya sinergisitas dari tingkat pusat hingga tingkat daerah.

“Sejauh ini, walaupun ada kendala, namun Alhamdulillah kita tetap berupaya agar korban dapat difasilitasi kepulangannya ke Indonesia,” tutupnya.

Sebelumnya, Kepolisian Resor Kota (Polresta) Bandara Soekarno-Hatta, Banten menangkap 17 orang terduga pelaku TPPO, dengan korban sebanyak 374 orang.

BACA JUGA :   Seruan Sanksi Israel, Kemlu Indonesia Buka Suara

Kapolresta Bandara Soetta, Kombes Pol Roberto GM Pasaribu mengatakan bahwa hasil pengungkapan dan penangkapan belasan tersangka ini, dilakukan sejak periode Januari-Juli 2023.

Adapun para tersangka tersebut, kata dia, terdiri atas laki-laki dan perempuan, masing-masing berinisial AFA (38) asal Jawa Barat, EN (54) asal Jawa Barat, TH (39) asal Jakarta, AEJA (24) asal Jakarta, LD (33) asal Jakarta dan AS (43) asal Jawa Barat.

Polisi juga menangkap AS (61) asal Jawa Barat, LM (36) asal Jawa Barat, DLD (24) asal Banten, A (40) asal Jakarta.

“Ditambah lagi, AAA (38) asal Banten, ER (37) asal Banten, BH (31) asal Banten, Y (43) asal Banten, SHS (26) asal Jakarta serta JD (21) asal Labuan Batu,” kata dia.

Kombes. Pol. Roberto GM Pasaribu mengatakan, untuk modus yang dilakukan dari para sindikat jaringan internasional itu, adalah dengan mengiming-imingi korban menjadi pekerja migran Indonesia non-prosedural, sebagai asisten rumah tangga, operator judi online dan pelayan restoran.

“Sedangkan ada tiga negara tujuan menjadi target sindikat TPPO internasional ini, baik Asia Tenggara seperti Kamboja, Vietnam serta Malaysia. Kemudian Timur Tengah yakni, Arab Saudi dan Abu Dabi, maupun Benua Afrika yaitu, Sudan,” jelasnya.

Ia mengungkapkan ratusan pekerja migran Indonesia ilegal yang menjadi korban para tersangka itu, terdiri atas 11 daerah di Indonesia yakni, Jawa Barat, Bengkulu, Lampung, Jakarta, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Tengah, Aceh, Sumatera Utara dan Belitung.

“Bila dikonversi atas aksi perdagangan orang ini bernilai Rp5,1 miliar dari jumlah korban yang diselamatkan,” ujarnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Bandara Soekarno Hatta, Kompol Reza Fahlevi, menambahkan dari 17 tersangka ini terbagi tiga negara tujuan yaitu dari Asia Tenggara sebanyak sembilan orang tersangka. Kemudian Timur Tengah ada lima tersangka dan Afrika ada satu tersangka.

BACA JUGA :   LPK Sakei Kota Tegal Disinyalir Lakukan Pemberangkatan TKI, Ini Faktanya

Atas perbuatan para pelaku terancam Pasal 83 JO 68 dan atau Pasal 81 JO 69 dan atau Pasal 72 jo Pasal 5 UU No 18 tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia dan Pasal 4 UU No 21 tahun 2007 tentang TPPO dengan ancaman 15 tahun penjara. (***)

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan