Menolak Bangkrut, Gaji Direksi Garuda Indonesia Dipangkas 30% Hingga 50%

ABOUTSEMARANG – Demi menekan beban biaya operasional perusahaan, Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra menyebut gaji direksi dan komisaris dipangkas 30 hingga 50 persen.

Manajemen PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) melakukan pemotongan gaji untuk seluruh karyawannya, termasuk direksi dan komisaris. Untuk dua posisi yang menjalankan perusahaan ini bahkan gajinya dipotong hingga 50 persen sejak tahun lalu.

“Kita hari ini melakukan aksi terhadap beban biaya karyawan karena kami mau saling jaga teman-teman, saya informasikan seluruh karyawan Garuda dipotong gajinya. Semua termasuk kami direksi saya tanda tangan, komisaris juga,” katanya saat berkunjung ke Kantor Transmedia, Kamis (23/12).

Tak hanya level petinggi, Irfan menyebut gaji pegawai pun dipangkas. Namun, gaji karyawan hanya dipotong 30 persen.

Baca Juga : Drainase Meluap, Dieng Jawa Tengah Banjir Hingga 1,5 Meter

“Jadi mereka yang di atas Rp 28 juta take home pay-nya [dipotong] 50%, yang di bawah itu 30%,” terang dia.

Selain melakukan pemotongan gaji, manajemen Garuda juga memutuskan untuk merumahkan sebagian besar pilotnya. Lantaran jumlahnya yang banyak, tak berimbang dengan jumlah pesawat yang diterbangkan perusahaan.

Sebelumnya, Irfan sempat menyebut pihaknya telah memangkas jumlah karyawan hingga 30,56 persen dari total yang mencapai 7.861 orang. Pengurangan dilakukan selama periode Januari 2020 hingga November 2021.

Manajemen mencatat jumlah karyawan tersisa sekitar 5.400 karyawan per November 2021. Jumlahnya berkurang sekitar 2.400 karyawan karena dampak dari efisiensi SDM selama pandemi covid-19.

“Mulai Januari 2020 sampai November tahun ini kami sudah menurunkan jumlah pegawai sebesar 30,56 persen dari 7.861 pegawai menjadi 5.400-an pegawai,” ucap Irfan pada Senin (20/12) lalu.

Untuk diketahui, saat ini perusahaan mengalami masalah keuangan yang berat. Beban utang perusahaan mencapai US$ 9,8 miliar atau sekitar Rp 140,14 triliun (asumsi kurs Rp 14.300/US$) dengan total kreditor 780 pihak.

Perusahaan juga tengah dalam proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Proses PKPU ini dinilai akan lebih memudahkan perusahaan untuk bernegosiasi dengan lessor karena jumlahnya yang sangat banyak. ***

Demi menekan beban biaya operasional perusahaan, Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra menyebut gaji direksi dan komisaris dipangkas 30 hingga 50 persen.

Manajemen PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) melakukan pemotongan gaji untuk seluruh karyawannya, termasuk direksi dan komisaris. Untuk dua posisi yang menjalankan perusahaan ini bahkan gajinya dipotong hingga 50 persen sejak tahun lalu.

“Kita hari ini melakukan aksi terhadap beban biaya karyawan karena kami mau saling jaga teman-teman, saya informasikan seluruh karyawan Garuda dipotong gajinya. Semua termasuk kami direksi saya tanda tangan, komisaris juga,” katanya saat berkunjung ke Kantor Transmedia, Kamis (23/12).

Tak hanya level petinggi, Irfan menyebut gaji pegawai pun dipangkas. Namun, gaji karyawan hanya dipotong 30 persen.

Baca Juga :

“Jadi mereka yang di atas Rp 28 juta take home pay-nya [dipotong] 50%, yang di bawah itu 30%,” terang dia.

Selain melakukan pemotongan gaji, manajemen Garuda juga memutuskan untuk merumahkan sebagian besar pilotnya. Lantaran jumlahnya yang banyak, tak berimbang dengan jumlah pesawat yang diterbangkan perusahaan.

Sebelumnya, Irfan sempat menyebut pihaknya telah memangkas jumlah karyawan hingga 30,56 persen dari total yang mencapai 7.861 orang. Pengurangan dilakukan selama periode Januari 2020 hingga November 2021.

Manajemen mencatat jumlah karyawan tersisa sekitar 5.400 karyawan per November 2021. Jumlahnya berkurang sekitar 2.400 karyawan karena dampak dari efisiensi SDM selama pandemi covid-19.

“Mulai Januari 2020 sampai November tahun ini kami sudah menurunkan jumlah pegawai sebesar 30,56 persen dari 7.861 pegawai menjadi 5.400-an pegawai,” ucap Irfan pada Senin (20/12) lalu.

Untuk diketahui, saat ini perusahaan mengalami masalah keuangan yang berat. Beban utang perusahaan mencapai US$ 9,8 miliar atau sekitar Rp 140,14 triliun (asumsi kurs Rp 14.300/US$) dengan total kreditor 780 pihak.

Perusahaan juga tengah dalam proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Proses PKPU ini dinilai akan lebih memudahkan perusahaan untuk bernegosiasi dengan lessor karena jumlahnya yang sangat banyak. ***

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan