Musim Kemarau Belum Terjadi di Sejumlah Wilayah Indonesia, Ini Sebabnya

ABOUTSEMARANG – Musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia belum juga terjadi diakibatkan adanya aktvitas La Nina.

Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisikan (BMKG) mengonfirmasi hal tersebut dan menjelaskan bahwa memang fenomena La Nina yang mengakibatkan musim kemarau di sejumlah wilayah di Indonesia tertunda.

Adapun sub koordinator bidang prediksi cuaca BMKG Ida Pramuwardhani menjelaskan, labilitas atmosfer karena pemanasan yang cukup besar menjadi penyebab turun hujan deras disertai kilat dan angin kencang.

“Pemanasan yang cukup dan labilitas yang relatif masih tinggi menjadi penyebab utama terbentuknya awan cumulonimbus yang biasa membawa hujan deras disertai kilat/petir dan angin kencang,” ujar Ida, Rabu, 15 Juni 2022.

Ida juga menambahkan bahwa sebagian wilayah Indonesia sedang mengalami peralihan musim, dari musim hujan ke kemarau atau disebut pancaroba.

Untuk saat ini berdasarkan data BMKG per 31 Mei, sebanyak 26,6 persen wilayah Indonesia masuk awal musim kemarau. Sebagian sisanya baru masuk kemarau pada Juni hingga Juli.

Sementara peralihan musim di wilayah Indonesia diprediksi akan berlangsung pada akhir Juni-Juli. Namun, saat ini baru sekitar 50 persen wilayah Indonesia yang sudah beralih ke musim kemarau.

“Potensi cuaca terik berpeluang masih bisa terjadi hingga musim kemarau berakhir, juga masih terdapat potensi hujan di musim kemarau walau intensitasnya lebih rendah dibanding peralihan musim,” katanya.

Menurut Ida, La Nina masih akan bertahan hingga pertengahan 2022. Hal ini nampak dari data sejak April hingga Mei indeks El Niño Southern Oscillation (ENSO) yang masih menunjukkan terjadi penguatan intensitas La Nina.

BACA JUGA :   Viral Video Diduga Chemtrail Sebarkan Omicron Muncul di Langit Jakarta, Ini Penjelasan BMKG

“La Nina ini umumnya akan berdampak pada curah hujan tinggi. 47 persen wilayah zona musim terlambat masuk musim kemarau,” ungkapnya.

Selain Ida, peneliti Meteorologi BMKG Deni Septiadi juga mengatakan saat ini suhu muka laut di Indonesia disebut masih cukup hangat dengan anomali berkisar antara 0.1 sampai 0.3 derajat celcius.

Sedangkan indeks La Nina 3.4 moderat -0.58 yang mengindikasikan konektivitas untuk menghasilkan hujan cukup tinggi.

“Meskipun terjadi penurunan hari hujan (HH), potensi intensitas hujan yang terjadi antara sedang-lebat bahkan ekstrem masih ada. Pada musim-musim peralihan (Maret-April-Mei, MAM) atau kemarau (Juni-Juli-Agustus, JJA) pemanasan permukaan akan sangat sempurna untuk pengangkatan,” kata Deni.

Tidak hanya itu, Deni juga mengatakan awan-awan yang terbentuk pada fase ini bahkan seringkali menjadi sangat menjulang, dengan suhu puncak awan mencapai -80 derajat celcius.***

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan