Para Dai dan Penyuluh Agama Diimbau Serukan Pemilu Rukun dan Damai

ABOUTSEMARANG, JAKARTA – Kementerian Agama Republik Indonesia mendorong para pelaku dakwah dan pelayanan keagamaan untuk mengajak semua umat dan jamaah agar terus menjaga keharmonisan dan kedamaian.

“Kepada para Penyuh Agama Islam, dai-daiyah, anggota Majlis Dai Kebangsaan (MDK), dan Pokja Majlis Taklim untuk menjadi muharrik, menjadi penggerak simpul-simpul yang senantiasa menjaga kerukunan dan perdamaian menjelang pemilu,” kata Direktur Penerangan Agama Islam (Penais), Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Dr H Ahmad Zayadi, Sabtu (10/2), di Jakarta.

Zayadi menjelaskan bahwa ada tiga tujuan utama dalam imbauan tersebut. Pertama, tujuannya adalah untuk menjaga suasana yang kondusif di kalangan umat dan menjaga kesucian masjid dengan mencegah aktivitas politik praktis.

Kemudian, dalam penjelasannya, Zayadi menyebutkan bahwa tujuan kedua adalah mendorong para aktor dakwah, termasuk pengelola masjid dan khatib, untuk mematuhi dan menyosialisasikan Surat Edaran Menteri Agama Nomor: SE.09 Tahun 2023 tentang Pedoman Ceramah Keagamaan.

“Lalu tujuan yang ketiga, menyampaikan pesan-pesan pemilu damai dan rukun, sekaligus mengutamakan kepentingan persaudaraan dan kerukunan nasional,” jelas Zayadi.

“Imbauan kami juga termasuk mendorong masyarakat terutama kalangan pemilih pemula untuk menggunakan hak pilihnya di Pemilu 2024,” tambahnya.

Peran Penting

Pihak tersebut menjelaskan bahwa para pelaku dakwah dan pelayanan keagamaan di Indonesia telah memainkan peran yang signifikan dalam membentuk sikap dan perilaku masyarakat, terutama terkait isu-isu sosial dan politik.

“Karena itu, kami mendorong para tokoh agama dan lembaga keagaamaan agar tidak terjebak pada narasi dan gerakan dakwah yang berpotensi memecah umat hanya karena perbedaan pilihan politik tertentu,” ujar Direktur PENAIS.

BACA JUGA :   Presiden Jokowi Resmi Lantik 12 Anggota KPU dan Bawaslu Periode 2022-2027

Selain itu, dia menyatakan bahwa materi ceramah yang disampaikan kepada masyarakat seharusnya bersifat mendidik, memberikan pencerahan, dan konstruktif dengan tujuan meningkatkan keimanan, memperkuat hubungan antarumat beragama, serta menjaga keutuhan bangsa dan negara.

“Pemilu 2024 pada dasarnya bukanlah momentum menjaga jarak lebar dengan saudara-saudara yang berbeda selera politik, melainkan momentum penguatan demokrasi untuk memilih pemimpin dan wakil rakyat yang terbaik demi kepentingan bangsa dan negara,” ucapnya.

Zayadi berharap, para aktor dakwah tidak mudah terprovokasi dengan ujaran, data, dan informasi yang berkaitan dengan SARA dan hal-hal yang berbau sensitif.

“Dengan prinsip dan nilai moderasi beragama di tengah pesta demokrasi 2024, kami berharap para penceramah dan lembaga mitra Kementerian Agama dapat semakin bijak dalam menerapkan materi dan metode dakwahnya di masyarakat masing-masing,” katanya.***

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan