Peduli Banjir Demak, BNPB Salurkan Bantuan Penanganan Darurat Bencana

ABOUTSEMARANG – BNPB memberikan bantuan dalam penanganan darurat banjir di Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah, pada Kamis (8/2).

Dukungan tersebut secara simbolis diserahkan kepada pemerintah daerah setempat.

Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Dr. Raditya Jati, bersama Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jawa Tengah, menyerahkan bantuan pangan dan non-pangan di Pendopo Bupati Demak.

Bantuan dana siap pakai (DSP) sejumlah Rp250 juta dialokasikan untuk operasional dan mendukung penanganan darurat.

Selain itu, BNPB juga memberikan bantuan pangan seperti 300 paket sembako, 300 makanan siap saji, dan 300 biskuit protein.

Sementara itu, bantuan non-pangan mencakup 300 selimut, 300 matras, 300 paket hygiene kit, 5 unit pompa alkon, 1 perahu karet, dan 1 tenda pengungsi.

“Bupati Demak dr. Hj. Eisti’anah, S.E. menerima secara simbolis bantuan dari BNPB. Pemerintah daerah menyampaikan terima kasih atas bantuan tersebut,” ujar Raditya, Kamis (8/2).

Kedatangan Deputi Bidang Sistem dan Strategi tersebut mewakili Kepala BNPB dalam memberikan bantuan terhadap dampak banjir yang masih melanda wilayah tersebut.

Saat berada di pendopo, sejumlah pejabat daerah, termasuk Sekretaris Kabupaten, Asisten 1 dan 2, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Demak, dan Dandim setempat turut menyaksikan penyerahan bantuan.

Sekretaris Kabupaten Demak, Akhmad Sugiharto, menginformasikan bahwa banjir telah menimpa 25 desa yang terletak di 7 kecamatan di wilayahnya.

“Update per 8 Februari pukul 11.00 WIB masyarakat terdampak mencapai 14.430 KK,” ujarnya.

Sugiharto menambahkan bahwa banjir terjadi karena volume air yang tinggi dari bagian hulu sungai menyebabkan kerusakan pada tanggul Sungai Cabean, Sungai Tuntang, dan Sungai Wulan.

BACA JUGA :   Banjir di Korea Selatan Makan Korban, 11 Tewas dan 8 Orang Dilaporkan Hilang

“Sejumlah sungai meluap sehingga menggenangi area permukiman dan juga persawahan,” imbuhnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB berpendapat, kajian risiko bencana dan rencana penanggulangan bencana daerah sangat dibutuhkan dalam upaya pengurangan risiko bencana.

“Hal tersebut bisa digunakan sebagai acuan dalam perencanaan dan penganggaran kegiatan untuk terutama upaya mitigasi,” kata Raditya.

Raditya menyatakan bahwa pemerintah daerah memiliki beberapa langkah yang dapat diambil, seperti mengelola daerah aliran sungai dan berkoordinasi dengan BBWS.

Menanggapi kejadian bencana di wilayah Demak, pihaknya sudah bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian PUPR, dan tim untuk membantu pemasangan geo-box di sejumlah tanggul yang rusak.

Selama setahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Demak sebenarnya sudah berkoordinasi dengan BBWS untuk merawat sungai, tetapi hal ini memerlukan anggaran yang besar.

“Normalisasi dilakukan belum menyeluruh dan sebagian tanggul sebagian sudah diperkuat oleh Dinas PUPR,” ujar Raditya.

Dalam mengatasi banjir di wilayah Demak, bupati berharap pemerintah pusat dapat membantu dalam upaya preventif terhadap sungai-sungai besar yang sering meluap, termasuk pencegahan untuk daerah pesisir dari rob.

Setelah proses penyerahan bantuan, Deputi Sistem dan Strategi BNPB melanjutkan kunjungan lapangan ke lokasi pengungsian di Desa Karangrowo dan lokasi terdampak banjir di Desa Undaan Lor, Kecamtan Karanganyar.

Pada lokasi pengungsian Desa Karangrowo, BPBD bersama dinas sosial dan relawan telah mengoperasionalkan dapur umum untuk para pengungsi.

“BNPB juga berkoordinasi dengan Sekjen Kemensos untuk dapat memperkuat kebutuhan sembako yang dibutuhkan selama penanganan darurat di wilayah Demak,” kata Raditya.

Saat berkunjung ke Desa Undaan Lor, Kecamatan Karanganyar, genangan air masih sangat tinggi. Tim gabungan dari BPBD, Basarnas dan relawan masih melakukan evakuasi warga. Hingga Kamis sore (8/2), banjir semakin meluas.

BACA JUGA :   Banjir dan Longsor Jayapura 6 Korban Meninggal Ditemukan

Raditya mengatakan, menurut masyarakat, daerah ini termasuk daerah yang jarang banjir.

“Camat Karanganyar mengungkapkan banjir terakhir pernah terjadi pada tahun 1992,” ujarnya.

Penanganan darurat banjir di wilayahnya, BPBD mengungkapkan kendala yang dihadapi yaitu kurangnya jumlah perahu karet. Pihaknya telah berkoordinasi dengan BPBD provinsi untuk mendukung pengerahan peralatan dan personel untuk proses evakuasi.***

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan