Pelurus Rambut L’oreal Digugat Atas Dugaan Sebabkan Kanker Rahim

ABOUTSEMARANG – L’oreal, perusahaan kosmetik ternama digugat atas klaim yang menyebut produk pelorus rambutnya menyebabkan peningkatan risiko kanker rahim pada wanita.

Adapun gugatan tersebut dilayangkan oleh Jenny Mitchell (32). Mitchell mengklaim bahwa dirinya menderita kanker rahim yang secara langsung disebabkan oleh paparan bahan kimia yang ditemukan pada produk L’oreal.

Sementara itu, Debrosse Zimmermann, salah satu pengacara Mitchell, mengatakan, gugatan itu menandai salah satu momen penting bagi wanita kulit berwarna yang telah menggunakan produk pelurus rambut kimia seperti relaksan.

Selain itu, Mitchell mengatakan bahwa dirinya ingat menggunakan produk pelurus rambut tersebut ketika dirinya duduk di kelas 3 saat berusia sekitar 8 tahun.

Mitchell didiagnosa menderita kanker rahim pada 10 Agustus 2018 dan menjalani histerektomi penuh di Boone Hospital Center di Missouri pada 24 September 2018.

“Saat itu, di usia 28 tahun, impian saya menjadi seorang ibu pupus,” ujarnya di konferensi pers, Senin (24/10), dikutip dari CNN.

“Seperti kebanyakan gadis Afrika-Amerika muda, produk pelurus rambut kimia diperkenalkan kepada kami di usia muda,” lanjutnya.

“Masyarakat telah menjadikannya norma untuk melihat dengan cara tertentu dan saya adalah suara pertama dari banyak suara yang akan datang menentang perusahaan-perusahaan ini. Tidak akan lagi,” imbuhnya lagi.

Mitchell lanjut menggunakan produk pelurus rambut kimia tersebut sekitar tahun 2000 hingga Maret 2022 dan meminta kompensasi lebih dari US$75.000 atau sekitar Rp1,1 miliar.

Gugatan Mitchell diajukan beberapa hari setelah sebuah studi di Journal of National Cancer Institute dipublikasi. Studi tersebut memperkirakan bahwa di antara wanita yang sering menggunakan produk kimia pelurus rambut, terdapat 4 persen risiko terkena kanker rahim pada usia 70.

BACA JUGA :   Info Loker! PT L'Oreal Indonesia Buka Lowongan Kerja Finance Management Trainee Batch 1, Terbaru Januari 2022

Pada wanita yang tidak menggunakan produk pelurus rambut kimia dalam 12 bulan sebelumnya, studi tersebut memperkirakan risiko terkena kanker rahim pada usia 70 menjadi 1,6 persen.

Peneliti mencatat bahwa wanita kulit hitam cenderung menggunakan produk pelurus rambut kimia ini lebih sering daripada wanita dengan kulit putih. Data penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara produk pelurus rambut dan kasus kanker rahim paling menonjol pada wanita kulit hitam.

Beberapa faktor yang mungkin berperan dalam seringnya penggunaan produk pelurus rambut termasuk standar kecantikan dan tekanan sosial Eurosentris yang ditempatkan pada wanita kulit hitam dan Latin di tempat kerja.

Hal ini terkait dengan agresi mikro dan ancaman diskriminasi, bersama dengan keserbagunaan yang diinginkan dalam mengubah gaya rambut dan kepercayaan diri untuk berekspresi.***

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan