Viral! Pengakuan Joki Vaksin Hingga Disuntik 16 Kali, Begini Penjelasan Komnas KIPI soal Reaksi Tubuhnya

ABOUTSEMARANG – Media sosial ramai dengan viralnya video Abdul Rahim (49), pria asal Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan yang mengaku menjadi joki vaksin pada Senin (20/12). Abdul Rahim mengaku menjadi joki vaksin dan telah divaksin sebanyak 16 kali.

Dalam video viral tersebut Abdul Rahim mulanya memperkenalkan diri. Selanjutnya ia mengaku bahwa dirinya telah 16 kali disuntik vaksin dengan 14 kali, di antaranya menjadi pengganti orang lain atau joki.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, saya Abdul Rahim, saya telah melakukan vaksinasi 14 orang pengganti. Adapun suntikan yang saya disuntikkan 16 kali. Adapun upah yang saya terima itu antara Rp100 ribu sampai dengan Rp800 ribu, sekian,” ucap Abdul Rahim dalam video viral tersebut.

Dilansir dari tvonenews.com, Abdul Rahim menceritakan keadaan tubuhnya setelah vaksin berulang kali.

Baca Juga : Begini Nasib Petugas SPBU yang Viral Curangi Pelanggan, Pertamina Sebut Terbukti Bersalah

Agak keram (kebas) tapi saya acuhkan dan badan agak lemas tapi tidak berlangsung lama,” ujar Abdul Rahim di Mapolres Pinrang, Selasa malam, (21/12).

Semoga tidak ada dampaknya pak, karena saya hingga saat ini tidak merasakan dampak aneh di badanku,” lanjut Abdul Rahim menambahkan.

Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI), Prof Hindra Irawan Satari menjelaskan apa yang terjadi pada tubuh Abdul Rahim. Pria asal Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan itu sebelumnya mengaku telah disuntik vaksin Covid-19 sebanyak 16 kali.

Hindra mengatakan, tidak ada efek yang berbahaya untuk tubuh joki vaksin. Hal itu seperti yang terlihat pada kondisi joki Abdul Rahim hingga hari ini.

Menurut Hindra, antibodi Abdul Rahim akan terbentuk setelah dua kali vaksinasi. Pemberian suntikkan vaksin lebih dari 16 kali, kata dia, justru akan sia-sia.

Hindra mengungkapkan, antibodi yang terbentuk sesuai dengan respons tubuh dan pasti akan terbentuk. Namun, bila masih tinggi, maka suntikan vaksin berikutnya akan dinetralkan oleh antibodi yang masih ada, atau hasil vaksinasi sebelumnya.

“Apabila ketika disuntik berikutnya masih ada antibodi tersebut, maka vaksin yang diberikan tidak akan memberikan manfaat, belum tentu akan naik,” kata Hindra, Rabu (22/12).

Karena itu, pemberian booster atau suntikkan ketiga dianjurkan setelah enam bulan dari vaksinasi dasar. Apabila jadwal tidak beraturan pada subyek, maka antibodi pada joki tersebut tidak dapat diramalkan. ***

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan