Viral Rekam Orang Berkuda, Wisatawan Dipaksa Bayar Rp50 Ribu, Ini Daftar Tarif Foto Komersial Gunung Bromo

ABOUTSEMARANG – Sebuah video viral di media sosial ketika memperlihatkan wisatawan diminta bayar Rp 50.000 setelah mengambil video penunggang kuda di Gunung Bromo.

Video tersebut diunggah oleh akun @aldidutcho di media sosial TikTok pada Minggu (19/6).

Dalam video tersebut juga terdengar, pria ojek kuda memaksa membayar sebesar Rp50 ribu karena telah merekam tanpa izin.

Hingga Rabu (22/6), video tersebut telah disukai oleh 482, 2 juta pengguna akun TikTok. Video dapat dilihat di sinii.

“Kalau ke bromo hati-hati jangan syukur syukur ambil video. Ini pengalaman pahit saya. Midioin kuda orangnya malah malak saya 50ribu,” tulis pengunggah.

“Tak suruh hapus malah enggak mau. Padahal banyak kuda lewat saya video enggak marah. Saya sebagai wisatawan sangat kecewa sekali. Tolong pada pengelola bromo. Dibrantas pemalak pemalak katak gitu,” imbuhnya.

Sebelumnya Video berdurasi 27 detik itu menampilkan seseorang yang sedang naik kuda di kawasan wisata Gunung Bromo.

Namun, tiba-tiba perekam video diberhentikan dan dimintai uang oleh pemilik kuda.

“Oh harus gitu ya?,” tanya si perekam saat diminta untuk membayar Rp 50.000.

Wisatawan itu sempat menanyakan apakah ia tidak boleh merekam kuda tersebut. Namun, pemilik kuda tetap meminta wisatawan untuk membayar Rp 50.000.

“Loh, kok bisa gitu?,” tanya si perekam.

“Lha sampeyan nyuting dari belakang ndak bilang-bilang. Uangnya mana?,” tutur si pemilik kuda.

Semua komenter netizen menyayangkan hal itu terjadi. Pasalnya, jasa ojek harusnya ramah dalam melayani para wisatawan yang datang ke Bromo.

BACA JUGA :   Dinar Candy Jadi Tersangka Kasus Pornografi, Polisi Sita Barang Bukti Lain yang Isinya..

Menanggapi hal tersebut pihak Humas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Sarif Hidayat mengungkapkan, video tersebut kemungkinan terjadi karena kesalahpahaman.

Dilansir dari kompas.com, sarif menerangkan hal tersebut merupakan kesalahpahaman kode etis, antara yang ambil video dengan yang bersangkutan (pemilik kuda).

Kendati demikian, pihaknya mengaku tengah menyelidiki tindakan tersebut.

Tarif pungutan film komersial

Lebih lanjut, Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi pada Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK Nandang Prihadi sempat menyinggung soal pungutan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 12 Tahun 2014.

Mengacu pada PP Nomor 12 Tahun 2014, terdapat PNBP tarif pungutan untuk film komersial. Tarif ini di luar karcis masuk kawasan,

“Kalau untuk kepentingan komersial yang kena PNBP. Kalau non-komersial ya enggak kena PNBP,” tandas Nandang.

Adapun tarif snapshot film komersial meliputi:

  • Video komersial: Rp 10 juta per paket
  • Handycam: Rp 1 juta per paket
  • Foto: Rp 250.000 per paket

Pungutan tarif foto komersial itu akan diberikan bagi wisatawan yang melakukan foto prewedding hingga iklan.

Nantinya, pembayaran tersebut akan disetorkan ke kas negara sebagai PNBP.

Aturan tersebut telah diterapkan beberapa tahun ini tanpa permasalahan berarti.

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) juga telah memasang banner imbauan kepada pengunjung di sejumlah lokasi.

Banner ini berisi kontak aduan apabila terdapat pelayanan yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.

(atn)

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan