Viral! Warganet Pertanyakan Aspek Keselamatan “Ngopi in The Sky” Wahana Baru Teras Kaca Gunungkidul, Pengelola Buka Suara

ABOUTSEMARANG – Salah satu destinasi wisata di Kabupaten Gunungkidul menawarkan wahana baru di awal tahun 2022 bagi pengunjung nya.

Wahana ini bahkan diklaim sebagai yang pertama di Indonesia. Adalah Teras Kaca Pantai Nguluran, Kalurahan Girikarto, Kapanewon Panggang. Wahana tersebut bertajuk “Ngopi in The Sky”.

CEO Teras Kaca, Nur Nasution mengatakan gagasan untuk membuat gebrakan ini sudah muncul sejak 3 tahun lalu. Namun baru terealisasi awal tahun ini.

“Rencana saat itu terhalang kondisi pandemi COVID-19, sehingga akhirnya baru terwujud sekarang,” kata Nur, Minggu (02/01).

Baca Juga : Unik! Lounge in The Sky Indonesia : Restoran di Ketinggian 50 meter Langit Jakarta

Setelah diresmikan, wahana Ngopi in The Sky viral di media sosial terutama Twitter.

Berawal dari unggahan akun @upil_jaran, ia menyisipkan video dan menuliskan,
“Wih ada wahana baru disalah satu destinasi wisata di Gunungkidul, Apa kalian berani nyoba ???”, tulisnya
“Pertama di Indonesia, “ngopi sambil terbang?”, “Jogja ada saja yaa buat dijadikan cerita”, lanjutnya.

Unggahan tersebutpun ramai dan banyak warganet mempertanyakan aspek keselamatan wahana tersebut karena menggunakan crane untuk mengangkat para pengunjung ke ketinggian 30-40 meter.

“Ga berani. Entah kenapa meragukan aspek safetynya”, tulis akun @asaibr**.

“Pakai crane masih ok, Kursi berpengaman ok, Tp kenapa sling pengaman cuma 4, Semoga sudah diperhitungkan dgn baik faktor keselamatannya.”, tulis akun @yswan**.

“Ugh terlihat sangat tidak safety. Yakinkan aku baru aku akan naik wkwk”, tulis akun @afrk**.

“Bahaya ini, mengingat crane punya stabilitas yg rendah. Kenapa pemda (disnaker ) mengijinkan? Atau bahkan mungkin belum berijin?”, tulis @u51**.

“Aku mau tahu penjelasan teknis dari aspek safety untuk destinasi konsep ini seperti apa. Karena aku punya beberapa alasan kontra dari segi teknis dan K3.”, tulis @AnilaTav**.

Ramainya warganet mempertanyakan aspek keselamatan wahana “Ngopi in The Sky” ini, Pengelola Teras Kaca Pantai Nguluran, Kalurahan Girikarto, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul memastikan wahana baru, yakni ‘Ngopi in The Sky’, aman meski menggunakan crane untuk mengangkatnya. Pengelola menggunakan double slink yang masing-masing slink mampu mengangkat beban 4 ton.

Dilansir dari detik.com, Selasa (4/1), “Crane kita itu dilengkapi double safety, kaca kami (atap) yang di atas pakai dua slink. Jadi, kalau satu putus otomatis masih menggantung,” kata CEO Teras Kaca Nur Nasution.

Nur juga telah memperhitungkan kapasitas maksimal beban tiap slink, yakni mencapai 2 ton. Adapun, kapasitas maksimal penumpang gondola ngopi in the sky itu hanya 3,5 ton.

“Jadi satu slink untuk 2 ton dan dikalikan dua jadi 4 ton. Nah, 4 ton dikalikan empat tiang untuk 16 ton,” kata dia.

Selain itu, 20 kursi penumpang, yang terpasang di gondola, dilengkapi pengaman berupa sabuk pengaman tiga titik di tiap kursi.

“Padahal, kapasitas penumpang maksimal cuma 3,5 ton. Jadi, 16 ton dikurangi 3,5 ton kan sisa 12,5 ton, ya. Karena itu bisa dikatakan aman,” ujar Nur.

Selain itu, pengelola tidak akan mengoperasikan wahana Ngopi in the Sky apabila cuaca buruk. Sehingga, Nur meminta masyarakat agar tidak perlu khawatir dalam mencoba wahana tersebut.

“Kalau angin besar kita tidak jalan (mengoperasikan Ngopi in the Sky), hujan deras juga tidak karena antisipasi petir,” kata dia.

Nur menjamin keamanan dengan mengecek kondisi tali maupun crane setiap hari. Pengunjung juga diwajibkan untuk tetap mengenakan sabuk pengaman tiga titik di setiap kursi.

“Secara berkala akan kami periksa, seperti di teras kaca itu kan setiap tiga bulan kita ganti talinya,” ujarnya.

Nur mengklaim inovasi itu menjadi yang pertama di Indonesia. Idenya, terinspirasi tempat ngopi yang ada di luar negeri. Terlebih, Teras Kaca memiliki pemandangan yang indah dan cocok untuk merealisasikan ide tersebut.

“Ini pertama di Indonesia. Kami sebut Ngopi in the Sky atau ngopi di atas awan dan ini memang dibuat khusus di Gunungkidul,” kata dia.

Nur memilih gondola berbentuk limasan. Nantinya, gondola tersebut diangkat menggunakan crane agar berada di ketinggian.

“Gondola dilengkapi kursi sebanyak 20 buah yang memutari meja dan di tengahnya ada ruang kosong untuk kru dan penyaji,” katanya.

Kemudian, saat mencapai ketinggian puncak sekitar 30 sampai 40 meter gondola dihentikan. Pada saat ini, pramusaji memberikan minuman pembuka dan crane lalu diputar ke sisi selatan lalu makanan dan minuman utama disajikan.

“Minuman inti serta biskuit disiapkan dalam nampan kecil. Nantinya, pengunjung bebas memilih, kopi hitam, latte atau teh,” ujarnya.

Setelah puas menikmati minuman dan berfoto di ketinggian selama sekitar 20 hingga 30 menit, selanjutnya pelan-pelan gondola diturunkan. ***

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan