Wali Kota Hendi Ungkap Alasan Kota Semarang Masuk PPKM Level 4

ABOUTSEMARANG – Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi menanggapi Perpanjangan PPKM Darurat yang berakhir hingga 25 Juli 2021. Namun, kini penyebutannya PPKM menggunakan level sesuai dengan penurunan angka yang terjadi di masing-masing Kota/Kabupaten. Kota Semarang pun menjadi salah satu daerah dalam PPKM level 4.

Hendi sapaan akrab Wali Kota Semarang ini mengungkapkan alasan Kota Semarang masuk dalam PPKM Level 4 padahal jika angka kasus Covid-19 di Kota Semarang sebenarnya menurun semenjak awal diberlakukannya PPKM darurat 3 Juli 2021.

Pada 3 Juli kasus di Kota Semarang adalah 2.349 kasus, sedangkan pada akhir PPKM Darurat tanggal 20 Juli angkanya turun pada 1.892, terbagi dari 600an warga luar kota Semarang, dan 1.300an dari kota Semarang.

“Meski angka statistik selama PPKM darurat ini semakin membaik atau landai tapi jumlah nya masih cukup signifikan sehingga oleh Presiden Joko Widodo untuk PPKM Jawa Bali diperpanjang sampai tanggal 25 Juli, setelah tanggal 25 Juli apabila ada hasil yang baik mulai dari kedisiplinan, prokes hingga vaksinasi yang cepat, angka semakin turun maka tiap daerah bisa melakukan modifikasi terkait peraturan yang selama ini dianggap masyarakat cukup ketat, misal untuk pelaku usaha,” Kata Hendi, dalam siaran persnya, Rabu (21/7).

Hendi menyebut Bed Occupancy Ratio (BOR) di Rumah sakit saat ini sudah turun hingga 57 persen dari sebelumnya diawal PPKM yakni 94 persen. Sedangkan BOR ICU turun pada angka 84 persen dari sebelumnya 96 persen.

“Saya cek ke 21 Rumah Sakit yang ada di Kota Semarang, ada tiga RS yang posisinya masih penuh yaitu RS Permata Medika, RS Telogorejo dan RS Pantiwilasa, yang lain alhamdulilah sudah ada cadangan kamar meskipun beberapa ICU juga masih penuh,” jelas Hendi.

Hal ini dianggap Hendi sesuatu yang cukup baik karena saat ini, IGD di Rumah Sakit sudah tidak ada lagi tumpukan pasien.

“Ini adalah hal yang cukup baik karena kita tahu 3 minggu lalu antrian RS sampai di IGD sampai 40 pasien, hari ini rata-rata IGD clear tidak ada tumpukan pasien,” ungkapnya.

Sedangkan untuk tingkat kematian di Kota Semarang sendiri menurun 0,2 persen, yakni dari 6,4 persen menjadi 6,2 persen. Meski demikian, prosentase tersebut masih berada diatas angka rata-rata nasional yakni 5 persen, hal inilah yang menyebabkan Semarang masuk dalam PPKM Level 4.

“Tingkat kematian pada 3 juli atau minggu ke 26 selama seminggu rata-rata yang meninggal 340, mendekati tanggal 20 rata-rata yang meninggal dalam seminggu 271 orang,” tuturnya.

Untuk peraturan yang diterapkan dalam PPKM Level 4, Hendi menyebut tidak ada peraturan yang diubah baik ditambah maupun dikurangi. Namun bagi para pelaku usaha, Pemkot Semarang masih bisa mendiskusikan terkait dengan pembayaran PBB.

“PPKM Pusat maka kita akan mengikuti arahan dari pusat, kalau sifatnya dari Pemkot maka kita bisa relaksasi untuk para pelaku usaha tapi ini kan dari pusat, misal untuk pembayaran pajak masih kita bisa bicarakan baik-baik tapi kalau hal-hal yang sudah dirumuskan oleh pemerintah pusat lalu kita melenceng sendiri maka akan konsekuensinya nanti,” tandasnya. (red/rls)

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan