Wali Kota Hendi Ungkap Penyebab BOR ICU di RS Kota Semarang Masih Penuh

ABOUTSEMARANG – Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi menjelaskan jika BOR (Bed Occupancy Rate) atau tingkat keterisian tempat tidur ICU (Intensif Care Unit) untuk pasien Covid-19 di Jawa Tengah khususnya di Kota Semarang masih tergolong tinggi.

Wali Kota yang akrab disapa Hendi mengungkapkan hal ini terjadi karena penanganan pasien Covid-19 di ICU lebih lama dibandungkan di ruang perawatan biasa. Selain itu, terdapat juga antrean pasien yang memang sebelumnya belum tertangani di ICU.

“Hanya memang tingkat keterisian di ICU nya masih sangat tinggi. Catatan kami di angka 91,4%. Beberapa rumah sakit punya sisa ICU satu dua, ada juga yang penuh,” tutur Hendi.

Maka jika ingin menurunkan BOR ICU, satu-satunya cara adalah dengan menambah jumlah ICU sebanyak-banyaknya. “Namun hal itu tentu saja tidak mudah karena tidak seperti membangun ruang perawatan biasa,” lanjutnya.

Meskipun begitu Hendi menegaskan penambahan ICU di Kota Semarang tersebut telah diupayakan. Salah satunya dicontohkan pada Rumah Sakit milik Pemerintah Kota Semarang sudah meningkatkan jumlah ICU.

“Di rumah sakit milik pemkot sendiri sudah, dari yang tadinya 37, kami tambah 14, sehingga sekarang tersedia 51 ICU, tapi sekali lagi menambah ruang ICU itu sangat kompleks, mulai dari penganggarannya, alat-alatnya, hingga SDMnya,” pungkasnya.

Namun Hendi juga menjelaskan jika BOR isolasi Covid-19 di Kota Semarang pada tanggal 3 Juli 2021 tercatat sebesar 83,4%, angka tersebut terus turun menjadi 67,2% di tanggal 20 Juli 2021, 56,2% di tanggal 25 Juli 2021, dan 46,2% di tanggal 28 Juli 2021.

Penurunan jumlah keterisian tempat tidur isolasi Covid-19 berbanding lurus dengan penurunan jumlah warga Kota Semarang positif Covid-19 yang dirawat, dimana saat ini tercatat sebanyak 817 orang.

Sementara itu Direktur RSUD KRMT Wongsonegoro, dr Susi Herawati mengamini kondisi menurunnya BOR di Kota Semarang yang diungkapkan Hendi. Susi membenarkan jika kondisi BOR di rumah sakit milik pemkot Semarang sudah jauh berkurang.

“Kondisinya sekarang sudah menurun. IGD kita sudah kosong tidak ada antrian, kemudian ruangan-ruangan juga siap untuk menerima pasien,” tutur Susi. (ard)

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan