WHO Resmi Ganti Nama Monkeypox Jadi MPOX, Ini Alasannya

ABOUTSEMARANG – Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO resmi mengganti nama Monkeypox atau cacar monyet. Kini, WHO mengumumkan penyakit itu akan disebut dengan “mpox”.

Perubahan nama ini dilakukan untuk menghindari stigmatisasi dari nama yang ada sebelumnya, cacar monyet. Nama ini dianggap memiliki opini negatif.

Dikutip dari laman The Sun, Atasan di WHO mengatakan bahwa orang-orang telah menggunakan bahasa yang cenderung rasis dan menstigmatisasi di media sosial selama wabah cacar monyet meluas secara global tahun ini.

Cacar monyet mendapatkan namanya karena virus ini awalnya diidentifikasi pada monyet yang dipelihara untuk penelitian di Denmark pada tahun 1958, tetapi penyakit ini ditemukan pada sejumlah hewan, dan paling sering pada hewan pengerat.

Lonjakan infeksi cacar monyet telah dilaporkan sejak awal Mei di antara pria yang berhubungan seksual dengan pria, di luar negara Afrika yang telah lama menjadi endemik.

Wakil dari badan amal HIV Terrence Higgins Trust, Glenda Bonde, berkata bahwa peralihan menggunakan mpox adalah hal yang tepat. Sebab, bahasa memiliki pengaruh besar dalam melanggengkan stigma dan diskriminasi.

“Nama ‘cacar monyet’ berperan dalam stereotip rasial dan rasis dan merugikan respons kesehatan masyarakat,” tambahnya.

Sebelumnya, WHO mengumumkan pada bulan Agustus sedang mencari nama baru untuk virus tersebut, meminta saran dari para ahli, negara, dan masyarakat.

Menurut WHO dalam penamaan penyakit yang diadopsi pada tahun 2015, penamaan harus dilakukan untuk meminimalkan dampak negatif yang tidak perlu. Terkait hal ini, WHO juga punya wewenang untuk menentukan nama penyakit, seperti halnya Covid-19.

BACA JUGA :   Meski Covid-19 di RI Aman Menurut WHO, Menkes Tetap Himbau Gunakan Masker di Area Terbuka

Pertimbangan termasuk kesesuaian ilmiah, pengucapan, dan kegunaan dalam bahasa yang berbeda.

“Menyusul serangkaian konsultasi dengan pakar global, WHO akan mulai menggunakan istilah baru ‘mpox’ sebagai sinonim untuk cacar monyet. Kedua nama tersebut akan digunakan secara bersamaan selama satu tahun sementara ‘cacar monyet’ dihapuskan.”

“WHO akan mengadopsi istilah mpox dalam komunikasinya, dan mendorong orang lain untuk mengikuti rekomendasi ini, guna meminimalkan dampak negatif yang berkelanjutan dari nama yang sekarang,” kata WHO soal cacar monyet ganti nama.

Adapun, gejala cacar monyet meliputi demam, kelelahan, nyeri otot, dan ruam atau lecet pada kulit. Namun, National Health Service (NHS) Inggris telah memvaksinasi 56.000 orang dengan risiko tertinggi tertular penyakit ini, dan akan menawarkan dosis kedua, tetapi pejabat mengatakan risikonya bagi publik rendah. (***)

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan