Chat BSI dengan Hacker LockBit Bocor, Minta Tebusan Rp296 Miliar

ABOUTSEMARANG – Hacker ransomware LockBit bocorkan isi pesan atau chat negosiasi diduga kepada Bank Syariah Indonesia atau BSI.

Pesan tersebut berisikan tentang berapa jumlah uang tebusan yang diminta oleh kelompok ransomware LockBit agar data BSI berukuran 1,5 TB itu dapat dipulihkan kembali.

Sebelumnya, hacker ransomware LockBit mengaku telah mencuri 15 juta pelanggan BSI termasuk informasi karyawan dan data internal sebesar 1,5 Terabyte, pada Sabtu, (13/5) lalu.

Mengutip dari akun Twitter @darktracer_int, Selasa (16/5), hacker LockBit itu meminta uang tebusan sebesar USD 20 juta atau sekitar Rp296 Miliar.

Dari tangkapan layar yang diunggah tersebut, hacker ransomware LockBit sedang bernegoisasi dengan pihak diduga BSI.

Anda akan mengetahui hal ini setelah semua data yang dicuri dipublikasikan,” tulis LockBit.

Chat tersebut dibalas dengan kalimat,

Ok, bisa saya beli seharga USD 100.000? Anda suka?.”

Pelaku pun membalas obrolan dengan menuliskan nominal harga data BSI tersebut, adalah USD 20 juta.

Akun yang diduga milik pihak BSI pun membalas, “Kenapa mahal sekali, setidaknya beri kami 1 contoh nama pengguna dan kata sandi yang dicuri.”

Tak hanya itu, akun tersebut juga menawar bila 1,5 data BSI tersebut valid mereka bersedia bayar senilai USD 10 juta atau Rp148 miliar.

Sebelumnya, Corporate Secretary BSI Gunawan A. Hartoyo mengatakan data dan dana nasabah dalam kondisi aman. Hal itu ia sampaikan sehubungan dengan isu yang berkembang mengenai adanya kebocoran data yang diakibatkan oleh serangan siber dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

BACA JUGA :   Profil Ghozali Everyday Pria Asal Semarang Raup Omzet 1,2 Miliar Hanya dengan Jual Foto Selfie

“Mengenai isu serangan (siber), BSI berharap masyarakat tidak mudah percaya atas informasi yang berkembang dan selalu melakukan pengecekan ulang atas informasi yang beredar. Dapat kami sampaikan bahwa kami memastikan data dan dana nasabah tetap aman,” katanya.

Dia mengatakan, BSI terus melakukan langkah preventif penguatan sistem keamanan teknologi informasi terhadap potensi gangguan data, dengan peningkatan proteksi dan ketahanan sistem.

Secara paralel, BSI juga melakukan investigasi internal dan terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, baik Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), serta instansi lainnya. (***)

Sharing:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan